Sabtu, 06 Oktober 2007

DEGRADASI LINGKUNGAN AKIBAT POLA KONSUMSI KITA

Oleh;

AGUNG WARDANA


Bahwa suhu global meningkat sekitar 5 derajat C (10 derajat F) sampai abad berikutnya, bahkan disejumlah tempat dapat lebih tinggi. Permukaan es di Kutub Utara makin tipis. Pengundulan hutan, yang melepaskan karbon dari pohon-pohon, juga menghilangkan kemampuan untuk menyerap karbon. 20% emisi karbon disebabkan oleh tindakan manusia dan memacu perubahan iklim. Sejak Perang Dunia II jumlah kendaraan bermotor di dunia bertambah dari 40 juta menjadi 680 juta; kendaraan bermotor termasuk merupakan produk manusia yang menyebabkan meningkatnya emisi karbondioksida pada atmosfer. Selama 50 tahun kita telah menggunakan sekurang-kurangnya setengah dari sumber energi yang tidak dapat dipulihkan dan termasuk 50% dari hutan dunia

Pernyataan ini dilontarkan oleh Wakil PBB untuk Program Lingkungan Hidup pada Konferensi Perubahan Iklim ke-7 di Maroko November 2001. Bahwa memang benar telah banyak perjanjian internasional tentang lingkungan hidup baik yang dibuat ditingkat regional maupun multilateral, namun dalam kenyataannya lingkungan hidup bahkan terus menerus memperlihatkan kemerosotannya. Apa yang kemudian pelajaran yang dapat ditarik dari pernyataan dan kenyataan diatas?

Degradasi lingkungan hidup yang terjadi secara global ini tidak dapat dihentikan hanya dengan dikeluarkannya perjanjian-perjanjian internasional maupun regional, bahwa penulis melihat ada permasalahan mendasar yang belum terjawab dalam aksi-aksi peduli lingkungan selama ini.

Perspektif Ekologi Politik
Ketika Manslot Memorandum dan Meadows Report yang dibuat untuk Club of Rome pertama kali dipublikasikan, banyak kalangan environmentalis (pecinta lingkungan) mengeluarkan reaksi gembira. Akhirnya kapitalisme mengakui kejahatannya. Mengakui bahwa logika profit yang dimilikinya telah menyebabkan ia melakukan kegiatan produksi hanya demi kepentingan produksi itu sendiri, menginginkan pertumbuhan demi pertumbuhan itu sendiri, memboroskan sumber daya-sumber daya alam yang tak tergantikan, merampok planet ini. Logika profit telah membuatnya menjadi semakin rumit dan mahal untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar (bernafas, akses air bersih, memperoleh kehidupan yang layak); ia telah meningkatkan rasa frustasi sebagaimana ia telah mendorong meningkatnya komoditas massa untuk menggantikan hal-hal yang seharusnya dapat kita peroleh secara gratis; udara, sinar matahari, hutan, laut. Kapitalisme telah mengakui bahwa nilai-nilai peradabannya harus diperiksa ulang. Cara kita hidup, mengkonsumsi dan melakukan kegiatan produksi harus diubah (AndreGorz; 2002).

Kita tahu kapitalisme tidak akan begitu mudah merubah dirinya, melakukan apa yang dikerjakan oleh musuh-musuhnya, hanya karena ada segelintir tuan-tuan besar tersentuh oleh rasa belas kasihan serta mengenali batas-batas fisik ekologis bagi pertumbuhan.s Justru kapitalisme sedang mempersiapkan dirinya guna bertarung di wilayah-wilayah baru, dengan senjata-senjata baru dan dengan tujuan ekonomi yang baru. Persiapan ini dengan mengacu pada rekomendasi zero growth (pertumbuhan nol persen) di negara maju dan pertumbuhan tiga kali lipat di negara berkembang. Maka terjadi arus ekspansi modal besar-besaran menuju negara-negara dunia ketiga (negara berkembang) yang biasa kita kenal dengan globalisasi dalam rangka mewujudkan rekomendasi diatas. Negara-negara maju tempat-tempat asal multinational corporation dan transnational corporation (MNC dan TNC) hanya menjadi negara-negara para bankir, yang kebanyakan kesibukannya berkisar pada pemutaran keuntungan yang diperoleh dari hasil-hasil kerja anak-anak perusahaan mereka di negara dunia ketiga. Ini yang kemudian oleh para environmentalis disebut sebagai neo-imperialisme. Air dan udara yang bersih, produksi barang-barang non material, waktu luang kemakmuran untuk negara-negara maju; untuk negara-negara dunia ketiga, produksi barang-barang material, kotoran, polusi, bahaya, keringat dan keletihan, diiringi situasi kota-kota yang penuh sesak dengan kemacetan dan polusi.

Di negara kapitalis-korporatis (AS) ataupun sosialisme negara (China) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam pola pembangunan ekonomi mereka. Mereka berlomba-lomba melipat gandakan produksi yang sudah barang tentu memboroskan energi dan sumber daya alam. Mengajak kita untuk mengkonsumsi lebih banyak dan lebih cepat (logika lebih dan lebih). Karena bagaimanapun barang-barang hasil produksi haruslah dilemparkan kepada pasar. Pertanyaannya kemudian, siapa yang akan mengkonsumsi jika semuanya telah dimiliki oleh konsumen? Para kapitalis tidak kehilangan akal, maka dibuatlah pengaturan agar konsumen secara terus-menerus mengganti barang-barang lamanya dengan barang-barang baru, entah itu karena barang yang lama telah usang dan memang sengaja dibuat untuk tidak dapat diperbaiki (keusangan fisik). Maupun dengan cara mempropagandakan lewat iklan secara intensif yang berisikan bualan tentang keunggulan model-model baru sekaligus klaim bahwa model-model lama telah usang atau ketinggalan jaman dan menjadi simbol dari kemiskinan (keusangan secara moral).

Masyarakat yang telah termakan oleh propaganda akan kebutuhan semu lewat iklan-iklan kemudian akan mengkonsumsi sesuai dengan pola yang telah dibuat oleh perusahaan-perusahaan kapitalis ini. Sehingga konsumen juga berkontribusi terhadap percepatan produksi perusahaan dan penghabisan energi dan sumber daya-sumber daya alam yang kian menipis. Jika kita contohkan pada sector kendaraan bermotor, tahun ini diproduksi motor merk A yang lewat iklan memperoleh pembelian yang sangat besar oleh konsumen, beberapa tahun kemudian keluar lagi motor merk B. Sudah barang tentu dalam iklannya akan mengarahkan konsumen untuk berganti merk motor dan begitu seterusnya sampai jalan-jalan penuh sesak dengan motor dan energi habis terkonsumsi. Masyarakat yang masih menggunakan motor lama akan melekat steriotipe bahwa mereka mendekati kemiskinan. Hal ini sama seperti permasalahan sampah, terutama sampah plastik yang menghantui kota-kota besar, tidak sesederhana yang kita bayangkan. Permasalahan sampah tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan membangun kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan atau budaya hidup bersih. Melainkan ada sebuah skema yang lebih besar (propaganda iklan) yang mengkondisikan masyarakat kita untuk mengkonsumsi lebih dan lebih oleh karena itu sampah plastik adalah hasil dari konsumsi tersebut. Seberapa banyak pun kita menyediakan TPA (tempat pembuangan akhir) jika laju konsumsi barang dalam kemasan jauh lebih cepat, tentu saja TPA tersebut tidak akan dapat menampungnya yang pada gilirannya akan terbuang dibadan-badan jalan, selokan dan tempat-tempat terbuka lainnya.

Mengkonsumsi “Lebih Sedikit dan Lebih Baik”
Seperti slogan yang diteriakkan oleh gerilyawan Zapatista, “More you consume, Less you life”, artinya pola masyarakat kita yang gemar mengkonsumsi secara berlebihan telah membawa kita pada krisis kehidupan dengan menghadapkan kita pada bencan-bencana ekologis dan bencana sosial. Mengkonsumsi secara berlebihan berarti memberikan kontribusi bagi tetap berjalannya sistem ekonomi pertumbuhan yang boros energi dan rakus sumber daya alam dengan jalan merampok kelestarian alam sehingga akumulasi kerusakan alam ini terjawab pada bencana-bencana yang datang tiada henti. Mengkonsumsi berlebihan juga semakin memperlebar kesenjangan antara orang-orang yang mampu mengkonsumsi (minoritas-istimewa) dengan masyarakat yang tidak mampu mengikuti gaya hidup tersebut yang merasa dihina oleh iklan-iklan yang menjanjikan keistimewaan hidup materi. Hal ini berarti pembiasan kelas yang membawa kecemburuan sosial yang dapat berujung pada pertarungan kelas sehingga merupakan bencana sosial kita.

Adalah mungkin untuk hidup lebih baik dengan jalan mengkonsumsi lebih sedikit. Mengkonsumsi barang yang tahan lama atau awet, tidak merusak lingkungan atau menciptakan kelangkaan yang tidak dapat diatasi ketika setiap orang memiliki akses terhadap barang tersebut. “Kita tidak memproduksi apa yang kita konsumsi, dan tidak mengkonsumsi apa yang kita produksi”. Pernyataan tersebut merupakan tantangan bagi kita bersama untuk keluar dari sistem yang sedang dominan saat ini dengan jalan membangun corak produksi - corak produksi sendiri yang lebih berpihak pada kelangsungan hidup diplanet ini. Another World is Possible!!!

Penulis, Aktivis WALHI
Tinggal di Tabanan

Tidak ada komentar: