Rabu, 24 Desember 2008

World Silent Day

Perjalanan Panjang Mengembalikan Empati
Atas Bumi dan Kemanusiaan


oleh

Agung Wardana


Perjalanan menuju COP 14 Poznan, Polandia dan balik kembali ke kampung halaman memberikan makna bagi penulis, khususnya dalam kampanye World Silent Day. Persinggahan diantara hiruk pikuk lalu lintas manusia yang tiada henti di bandara-bandara besar dunia seperti London, Hongkong maupun Singapore adalah ruang kontemplasi diri.

Sambil duduk dan mengamati ribuan orang berlalu lalang, ada melihat papan pengumuman, hingga menyibukkan diri dengan temans sejati manusia modern, barang elektronik. Bak robot, mereka sibuk dengan program yang dipasang dikepala oleh sang programer masing-masing. Jangankan menawarkan pertolongan bagi orang lain yang sedang kebingungan atau pun butuh pertolongan, tegur sapa dan senyum hangat pun sirna ditempat itu.

Nampak, seorang bapak perlente melemparkan koin pada kotak sumbangan yang terpasang dengan poster anak Afrika kelaparan. Dan disaat suara koin bergemerincing, arah pandangan orang sekitar pun menuju dan menatap kagum akan kedarmawanan sang bapak.

Inikah dunia modern dimana lalu lintas manusia tanpa batas dan empati menjadi tontonan untuk menunjukkan bahwa kelas kita lebih tinggi? Masih dalam dialog imajiner, penulis bertanya pada diri sendiri mampukah World Silent Day menghentikan hiruk pikuk tersebut dan sementara itu relasi kemanusiaan akan dapat dirajut kembali.

Meraih Perhatian Yang Terpecah
Kampanye perjuangan menuju World Silent Day bukanlah perjalanan yang mudah dan singkat. Berbagai bentuk pahit getirnya yang dirasakan akan menjadi pelajaran dimasa mendatang. Mungkin itu kalimat yang dapat diungkap ketika melihat alat kampanye kita berakhir di tong sampah atau juga disia-siakan orang. Kalimat tersebut sebagai bentuk penghiburan sekaligus motivasi diri untuk tetap berjalan.

Berbagai langkah penulis lakukan untuk menarik perhatian peserta konferensi COP 14 UNFCCC di Poznan, Polandia. Tantangannya juga semakin berat karena kali ini World Silent Day tidak mendapat dukungan resmi dari penyelenggara serta juru kampanye yang hanya dua orang saja. Mulai dari memasang sticker di setiap pilar strategis, dialog langsung hingga mengganti wall paper komputer dengan banner WSD.

Sticker harus dipasang pada pilar yang sama karena keesokannya selalu saja dilepas petugas karena dianggap melanggar aturan di UN Compound. Begitu juga dengan nasib brosur yang diletakkan di stand tak bertuan juga menghilang entah kemana. Dalam dialog langsung orang terkadang juga terlihat tidak begitu menghiraukan dan bergegas meninggalkan dengan terburu-buru. Penolakan demi penolakan telah terbiasa dirasakan.


Penulis pun teringat bagaimana perjuangan panjang menuju Hari Bumi yang dirayakan setiap 22 April. Dibutuhkan waktu paling tidak lima tahun dan jutaan orang turun kejalan secara serentak pada hari itu untuk menyuarakan keprihatinan terhadap bumi. Namun tentu saja World Silent Day berbeda dengan Hari Bumi ataupun Hari Lingkungan Hidup yang cukup dirayakan dengan mengucapkan selamat saja.

World Silent Day memerlukan kesadaran bersama sehingga dapat bermanfaat lebih besar. Memang tidak semua orang berani melepaskan keistimawaan dan kenyamanan dunia materi dalam empat jam sekalipun. Apalagi hari ini manfaat hanya dihitung dalam deret angka mata uang pada setiap putaran jarum jam dengan ungkapan “Time is Money.”

Tentu saja, penulis percaya bahwa diantara milliaran umat manusia di seluruh dunia masih ada yang peduli dengan keberlangsungan hidup di bumi. Dan itu adalah awal dari sebuah langkah bersama untuk mengembalikan empati atas bumi dan kemanusiaan yang selama ini tidak tersemaikan. Jika Bali, sebuah negeri dunai ketiga, saja bisa melakukannya mengapa negeri yang katanya lebih beradab tidak bisa?

Penulis, Aktivis Lingkungan

Kamis, 11 Desember 2008

Poznan Menjadi Medan Kurusetra Perubahan Iklim

oleh:


Agung Wardana


Ditengah dinginnya suhu Poznan, Polandia yang hanya 2 derajat celcius, nampaknya mulai muncul percikan kehangatan menuju COP 14 UNFCCC (KTT Perubahan Iklim ke 14). Mulai dari reklame komersil yang mencantumkan kata 'climate' (iklim), seperti sebuah universitas mengiklankan diri pada sebuah billboard dengan kata-kata “Good Climate to Study Economy” (Iklim yang baik untuk belajar ekonomi), hingga sloga resmi pemerintah yang berbunyi “Let's Make Climate for Change” (Mari Buat Iklim untuk Perubahan).


Dalam dua minggu kedepan, kota tertua di Polandia ini akan menjadi medan pertarungan perubahan iklim setelah Bali, Desember tahun lalu. Masih seperti sebelumnya, COP 14 ini juga akan memfokuskan diri untuk menindaklajuti hasil pertemuan Bali yang biasa disebut Bali Action Plan dengan 4 building block nya, yakni Mitigasi dan Adaptasi, Teknologi Transfer, Finansial. Selain hal tersebut, ada satu isu krusial yang banyak menjadi sorotan, yakni tentang Reduction Emission on Deforestation and Degradation in Developing Countries (REDD).


Berdasarkan pada hasil penelitian Sir Nicholas Stern yang menyatakan bahwa deforestation telah berkontribusi sebanyak 20% pelepasan emisi global. Dengan asumsi tersebut, maka disusunlah sebuah skema yang dapat menurunkan tingkat deforestasi terutama diusulkan oleh negara yang memiliki hutan. Perdebatan mulai muncul tentang metodologi, sumber pendanaan hingga hak penguasaan atas hutan.


Mengenai metodologi, REDD memiliki beberapa premis yang keliru yakni karbon yang keluar akibat pembakaran bahan bakar fosil dapat digantikan dengan karbon dari pepohonan. Bahkan hal mendasar tentang definisi hutan pun masih belum jelas dengan berbagai macam rujukan yang tumpang tindih satu sama lainnya. Misalkan Food and Agriculture Organization (FAO) mendifinisikan hutan juga termasuk perkebunan didalamnya. Hal ini justru akan membuat perusahaan kelapa sawit bersorak riang gembira karena mereka akan memperoleh insentif dari skema ini, walaupun kenyataannya mereka membuka hutan alam untuk perkebunannya.


Beberapa negara mengajukan proposal agar pembiayaan REDD berasal dari carbon market (perdagangan karbon) yang jelas-jelas saat ini telah gagal. Alih-alih dapat menurunkan emisi gas rumah kaca, perdagangan karbon justru menjadi pemicu terjadinya pengalihan tanggung jawab (offsetting). Sebuah negara atau perusahaan di negara Annex 1 tidak perlu menurunkan emisinya jika ia dapat memperoleh karbon kredit dari skema REDD dengan jalan memberikan uangnya kepada negara berkembang untuk menjaga hutannya. Jika dibandingkan dengan upaya menurunkan emisi domestiknya, negera maju akan lebih memilih skema ini dengan alasan bahwa lebih murah dan simple karena mereka tidak perlu merubah kenyamanannya dalam mencemari atmosfir.


Selain itu penolakan juga mengalir dari kelompok masyarakat adat, karena sangat tergantung dari hutan mereka. Apalagi hingga saat ini belum ada negara yang mengakui hak-hak masyarakat adat kecuali Bolivia. Maka wajar muncul kekhawatiran akan kehilangan penguasaan hutan dan teritori adat mereka, apalagi masyarakat adat tidak mendapatkan tempat yang layak pada Kovensi Perubahan Iklim.


Adakah Perubahan Yang Akan Dibuat?

Perjalan menuju COP 15 di Copenhagen, Denmark sebagai tempat penentu atas semua perdebatan ini nampaknya akan semakin membuat panas atmosfir setiap ruangan. Berbagai solusi pun keluar sebagai jawaban atas krisis iklim ini dan kebanyakan proposal solusi yang saat ini diatas meja adalah solusi yang keliru, dari REDD, nuklir sebagai energi alternatif hingga agrofuel sebagai bahan bakar ramah lingkungan.


Namun yang luput dari negosiasi perubahan iklim ini adalah keterkaitan perubahan iklim dengan isu keadilan, hak asasi manusia dan hutang ekologi negara maju pada negara berkembang yang menjadi prinsip keadilan iklim. Meski telah didorong oleh kelompok masyarakat sipil, nampaknya keadilan iklim tidak menjadi prioritas karena perundingan telah larut menjadi transaksi jual beli karbon. Maka tidak mengherankan jika pada COP 13 UNFCCC di Bali lalu, delegasi non-pemerintah yang paling besar adalah kelompok para calo karbon dan pada COP 14 Poznan ini juga terulang kembali.


Dengan keahlian lobby dan kekuatan posisi tawar mereka, maka semua akan berjalan seperti business as usual. Jika demikian, adakah perubahan yang akan dibuat dalam COP 14 Poznan ini? Mari kita lihat bersama apa yang dilakukan pemerintah kita demi masa depan bumi ini.


Penulis, Aktivis Lingkungan

Observer COP 14 Poznan.