Senin, 28 Desember 2009

Orang Asli

Suara Terpinggirkan Dari Negeri Jiran


oleh:


Agung Wardana



Kami ingin mewariskan hutan, tanah dan sungai yang sama kepada anak cucu kami, untuk itulah kami berjuang mati-matian mempertahankannya dari kerakusan orang kota” - Tijah



Sore itu begitu cerah dengan angin yang berhembus membawa kehangatan dalam hati. Setelah 3 jam dalam perjalan dari Kuala Lumpur melewati hamparan perkebunan kelapa sawit akhirnya kami tiba di sebuah perkampungan Chang Lama, Negara Bagian Perak, Malaysia.


Orang-orang tua yang duduk di atas pelataran bangunan kayu berbentuk panggung, menyambut kami dengan ramah. Melewati pelataran tersebut nampak rumah-rumah panggung yang terbuat dari papan berjajar seragam mengelilingi tanah lapang yang cukup luas. Di salah satu sisi tanah lapang terdapat panggung kecil yang kemudian kami ketahui sebagai tempat mengadakan upacara adat setiap bulan Oktober.


Beberapa perempuan paruh baya menggunakan kebaya menghampiri kami dan saling memperkenalkan diri satu sama lain. Kemudian mempersilahkan kami menuju sebuah rumah yang nampak berbeda dengan rumah panggung dari papan yang seragam di pinggir lapangan. Tidak ada pagar yang membatasi satu pekarangan rumah dengan pekarangan rumah lainnya.


Kami pun memasuki sebuah rumah panggung yang terbuat dari ranting-ranting yang tersusun rapi dengan ayaman bambu sebagai lantainya. Jelas terlihat bahan-bahan tersebut diambil dari hutan disekitarnya. Namun saat ini kegiatan untuk mengambil hasil hutan dianggap sebuah kejahatan oleh Jawatan Hutan (Departemen Kehutanan), maka jeruji besi siap menunggu mereka.


Orang Asli Bangkit Melawan

Orang Asli adalah suku bangsa tertua yang menempati Peninsula Malaysia. Sama seperti suku bangsa asli lainnya, kehidupan mereka sangat tergantung pada alam sebagai sumber kehidupan dan kelangsungan peradaban. Menempati kawasan dengan luas kurang lebih 3.000 hektar, Orang Asli di dua desa yakni Kampung Chang Lama dan Chang Baru menjalani hidup penuh dengan perjuangan melawan kerakusan modal.


Kampung Chang Lama berdiri pada 1969 setelah Kerajaan (Pemerintah Malaysia) membangun rumah-rumah panggung dari papan dalam rangka mendomestifikasi Orang Asli. Tidak hanya itu, tepat ditengah perkampungan juga dibangun sebuah pos Jawatan Hutan bak pemantau, jika tidak mau disebut mengintimidasi, segala denyut kehidupan masyarakat.


Saat itu pula Orang Asli mulai diperkenalkan dengan kepemilikan pribadi, sekolah dan agama sebagai upaya 'meng-adab-kan' mereka yang selama ini tinggal di sekitar hutan. Hal inilah yang kemudian hari melahirkan perpecahan diantara mereka sedangkan di sisi lain pengambilalihan tanah ulayat oleh kerajaan terus menerus terjadi.


Keprihatinan akan kondisi perpecahan sampai tahun 1993, mendorong seorang perempuan muda bernama Tijah mulai berpikir untuk merubah keadaan. Sebagai seorang perempuan muda, Tijah menyadari bahwa posisi nya sangat lemah dalam komunitasnya. Oleh karena itu dia mulai proyek perubahannya dengan mendirikan taman kanak-kanak.


Setiap hari dia mengajar anak-anak untuk di kampung bernyanyi lagu buatannya sendiri yang berisi pesan harapan baru bagi Orang Asli jika saja mereka mau bersatu. Anak-anak pun menyanyikan lagu-lagu itu di rumah masing-masing sehingga terdengar oleh orang tua. Lambat laun, para ibu pun merasa tergerak hatinya mendengarkan nyanyian anak mereka. Tijah menggunakan kesempatan ini untuk bisa mengumpulkan para ibu tersebut untuk diajak membentuk sebuah organisasi.


Lambat laun, pada 1995 organisasi pun terbentuk dan mulai menjadi usaha ibu-ibu untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga dengan jalan beternak, pertanian organik. Tijah menjelaskan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga hanya merupakan pintu masuk untuk menuju misi utamanya yakni untuk membangun kekuatan berkomunitas. Karena memang saat itu Orang Asli sedang manghadapi konflik dengan pemerintah yang ingin membangun Kebun Raya dan Binatang diatas tanah ulayat mereka.


Namun perjuangan yang dilakukan oleh kaum laki-laki mengalami kemandekan karena pemerintah melakukan intervensi dalam penentuan Totok Batin (tetua adat). Ibu-ibu yang telah mengorganisir diri menggantikan peran kaum laki-laki dengan mengambil posisi berada di garis depan perjuangan.


“Dulu ibu-ibu tidak berani melawan orang pemerintah tapi sekarang kami tidak takut lagi. Meski mereka punya senjata, tapi kami tidak takut karena kami punya suara,” ungkap Tijah dan diiyakan oleh ibu-ibu yang mendampinginya.


Aksi-aksi konfrontatif seperti blokade sampai aksi diplomasi dilakukan oleh ibu-ibu, akhirnya mampu mendapat simpati dari kaum laki-laki dan mulai bergabung bersama dalam organisasi. Meski berkali-kali ditekan dan diancam untuk diperjarakan, Tijah bersama organisasinya tetap melanjutkan perjuangannya mempertahankan hak.


“Bila banjir Orang Asli yang dipersalahkan oleh pemerintah karena dianggap menebang pohon. Tapi sebenarnya yang menebang pohon-pohon besar adalah perusahaan. Kami hanya menjadi kambing hitam karena dianggap tidak punya hak di Malaysia ini,” ungkap Nipah, perempuan tua yang selama ini setia mendampingi Tijah dengan penuh semangat.


Adanya persamaan perasaan akan sebuah penindasan, Tijah mulai meluaskan pengorganisasiaannya hingga membentuk organisasi Orang Asli di Negara Bagian Perak. Setiap Oktober organisasi ini akan berkumpul di Kampung Chang Lama untuk mengadakan pertemuan dan ritual adat penghormatan kepada alam semesta.


Perjuangan Tak Kenal Usai

Meski sudah bisa bernafas lega karena rencana Kebun Raya dan Binatang ditunda oleh pemerintah, bukanlah berarti perjuangan telah usai. Upaya untuk memecah belah Orang Asli terus saja dilakukan oleh pemerintah dalam berbagai bentuk.


Yang paling muktahir, pemerintah memberikan bantuan rumah permenen kepada keluarga Orang Asli dengan syarat bahwa mereka harus mengajukan proposal kepada pemerintah melalui Totok Batin. Dari ratusan keluarga yang mengajukan proposal, hanya 6 rumah yang dibangun dan tersebar di sudut-sudut perkampungan.


Karil mengaku telah mengajukan proposal hingga puluhan kali namun tetap saja rumah yang diidamkannya belum juga dibangun. Bapak yang bekerja serabutan ini harus tinggal di rumah panggung kecil bersama isteri dan 4 orang anaknya. Terkadang dia merasa iri dengan keluarga yang telah mendapatkan bantuan rumah dari pemerintah dan tidak tahu mengapa dia dan ratusan keluarga lainnya tidak mendapatkannya.


Selain melalui pemberian rumah, kooptasi lain yang dilakukan adalah dengan jalan memberikan pekerjaan dan beasiswa kepada kelompok elit Orang Asli yang loyal terhadap pemerintah. Kondisi ini dikhawatirkan akan menjadi konflik terbuka diantara Orang Asli di masa mendatang. Meski demikian, Tijah bersama para ibu-ibu tidak kenal lelah untuk tetap mengingatkan mengenai pentingnya persatuan diantara mereka.


“Kami berharap anak cucu kami belajar sungguh-sungguh untuk bisa melanjutkan perjuangan ini. Kami ingin mewariskan hutan tanah dan sungai yang sama kepada anak cucu kami, untuk itulah mengapa kami berjuang mati-matian mempertahankannya dari kerakusan orang kota,” harapan Tijah mewakili suara Orang Asli di Negeri Jiran yang selama ini terpinggirkan.


Penulis, Aktivis Lingkungan


Telah dipublikasikan di Buletin "JagadHita" edisi Januari 2010