Jumat, 03 Desember 2010

Aktivis Lingkungan Bersatulah!

Oleh


Agung Wardana


Sepertinya bukan kebetulan jika gerakan lingkungan hidup menjadi bulan-bulaan banyak pihak saat ini. Karena memang selama ini gerakan ini dianggap menggangu keyamanan ‘business as usual’ penguasa ekonomi dan politik.


Misalkan, beberapa saat yang lalu ini publik Inggris disuguhkan dengan berita perdebatan antara aktivis lingkungan dengan pembuat film, “What the Green Movement Got Wrong”. Selanjutnya di negeri sendiri, gerakan lingkungan khususnya Greenpeace, setelah kapal Rainbow Warrior-nya ditolah masuk keperairan Indonesia, saat ini sedang ditantang berdebat oleh seorang akademisi diranah ilmiah ditambah lagi bantahan dari staf Presiden terkait data yang digunakan dalam publikasinya.


Label Anti Ilmu Pengetahuan

Murray Bookchin (1989) pernah menyatakan bahwa gerakan lingkungan menjadi gerakan yang paling radikal abad ini. Sehingga paska perang dingin, kapitalisme meletakkan gerakan lingkungan dalam list musuh yang perlu diwaspadai. Meski tidak dapat dipungkiri banyak juga muncul model developmentalisme yang didukung oleh korporasi untuk memoderasi gerakan lingkungan.


Berkaitan dengan cara mematahkan gerakan lingkungan juga masih menggunakan metode lama yakni dengan melabelkan gerakan lingkungan sebagai ‘anti-ilmu pengetahun’ ataupun ‘anti-kemajuan’. Dengan jalan mengambil salah satu-dua contoh ‘kesalahan’ yang disebarluaskan untuk membangun opini publik. Maksudnya jelas untuk merobohkan citra gerakan lingkungan yang selama tiga dekade menjadi memberikan kontribusi bagi penyelamatan bumi.


Film dokumenter “What the Green Movement Got Wrong” mengambil sampel hubungan antara pelarangan DDT diseluruh dunia dengan banyaknya korban meninggal akibat malaria. Pelarangan DDT diklaim sebagai dampak dari kampanye aktivis lingkungan, Greenpeace. Namun dalil ini dengan mudah dipatahkan oleh George Monbiot, aktivis lingkungan radikal, karena memang tidak pernah ada pelarang DDT diseluruh dunia. DDT sendiri tidak pernah masuk dalam Annex B Konvensi Stockholm tentang POP. Jadi hal tersebut hanya cerita fiksi yang disusun oleh para kolaborator korporat (Guardian 04/10/10).


Federasi organisasi lingkungan terbesar, Friends of the Earth (FOE), dalam film tersebut, juga dilabelkan sebagai anti ilmu pengetahuan. Hal ini disebabkan oleh posisi FOE selama selama ini menolak keras pangan dari produk genetically modified organisms (GMO) dengan basis prinsip kehati-hatian (Precautionary Principle).


Dalam prinsip tersebut, ketidakpastian ilmu pengetahuan menganai dampak sebuah program seharusnya tidak menjadi alasan untuk menunda langkah proteksi terhadap lingkungan hidup dan kesehatan manusia (Prinsip 15 dari Deklarasi Rio). Dengan demikian, alam dan kesehatan manusia diberikan porsi yang harus diuntungkan dalam program yang masih diperdebatkan.


Argumen terpenting dari FOE terkait GMO terkait dengan relasi kuasa korporasi dengan rakyat. Jika pangan GMO yang diproduksi oleh korporasi disebarluaskan maka rakyat sedang meletakkan lehernya ditali gantungan kuasa korporasi atas kehidupan. Korporasi kemudian akan berubah menjadi tuhan dalam menentukan siapa yang layak hidup, dengan jalan memberikan suplai pangan, dan siapa yang harus mati atas nama keuntungan.


Dengan demikian perdebatan yang belangsung bukan lagi dalam ranah ilmu pengetahuan ilmiah dan teknis yang diklaim sebagai wilayah yang ‘bebas kepentingan’. Tetapi meluas kedalam perdebatan ekonomi politik yakni relasi kuasa negara-modal-rakyat.


Ditempat berbeda, Indonesia, aktivis Greenpeace ditantang untuk berdebat mengenai hasil penelitian ilmiah tentang ‘kejahatan lingkungan’ satu korporasi. Namun sayangnya tantangan ini belum diterima oleh pihak Greenpeace. Sepertinya, ada ketidakpercayaan diri dari para aktivis Greenpeace untuk berdebat dengan seorang doktor dari IPB. Padahal di dunia nyata, keabsahan temuan seorang doktor tidaklah lebih superior dari intuisi penyelamatan ibu pertiwi dan keadilan lingkungan dari seorang yang tidak berpendidikan sekalipun.


Membuka Kontradiksi Kapitalisme-Alam

James O’Connor (1988) menyatakan bahwa alam berkontradiksi dengan modal, kemudian dikenal kotradiksi kedua dari kapitalisme. Kontradiksi ini melihat bahwa produksi tanpa batas dari kapitalisme membawa kehancuran lingkungan hidup. Sedangkan, kontradiksi pertama sendiri terletak pada hubungan buruh dengan modal. Dengan demikian, keuntungan kaum kapitalis sebenarnya diperoleh selain dari nilai lebih kaum buruh ditambah dari eksternalisasi biaya lingkungan dan social.


Selain kontradiksi diatas, terdapat juga perbedaan mendasar dalam pijakan berpikir para korporatis dengan aktivis gerakan lingkungan. Jika korporatis mungkin juga termasuk komprador-nya melihat nilai alam secara intrumental semata. Dimana alam dipandang sebagai alat pemuas kebutuhan dan keinginan manusia yang tanpa batas. Sehingga sumber daya yang terbatas jumlahnya sudah semestinya diberikan nilai ekonomis.


Di sisi lain, gerakan lingkungan memperluas cara pandang instrumental ini dengan menambahkan pendekatan nilai inheren dan intrinsik dari alam. Nilai inheren melihat alam tidak semata-mata sebuah entitas yang harus ditaklukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi menjadi ruang komtemplasi yang memiliki symbol spritualitas. Sedangkan nilai intrinsik memandang alam memiliki nilai dari dan untuk dirinya sendiri meskipun tanpa keberadaan manusia. Dengan demikian, manusia memiliki kewajiban moral untuk menghormati-nya terlepas dari memiliki fungsi atau tidak dalam kehidupan manusia.


Kemudian, pertanyaannya: akankah kontradiksi dan perbedaan cara pandang ini direkonsiliasi dalam ranah diskusi ilmiah yang bias instrumentalis? Mungkin jawabannya sulit, jika bukan mustahil.


Selanjutnya, sebenarnya tantangan dari akademisi IPB tersebut ditujukan secara terbuka bagi seluruh gerakan lingkungan hidup di Indonesia. Hal positif dari menerima tantangan ini, paling tidak, dapat membuka kontradiksi dan memperjelas siapa kawan dan siapa lawan dari gerakan lingkungan di Indonesia. Karena tentu saja tidak ada orang yang bisa netral di dalam kereta yang sedang bergerak, seperti judul film Howard Zinn. Jadi, aktivis lingkungan bersatulah!



Aktivis Lingkungan

Sedang belajar di University of Nottingham

6 komentar:

mnizar mengatakan...

izin muat artikel ini di majalah walhi Aceh.

M. Nizar Abdurrani
Kadiv Advokasi & Kampanye Walhi Aceh

Anonim mengatakan...

Seems to [b][url=http://prada.hidear.org/#44511]プラダ 長財布[/url][/b]
humour to the nowadays the rage[b][url=http://pradaoutlet.hidear.org/#44421]プラダ 財布 新作[/url][/b]
"dissemble fur" sturdy [b][url=http://pradaoutlet.hidear.org/#44341]プラダ 長財布[/url][/b]
arrogance, this [b][url=http://prada.hidear.org/#44351]プラダ 財布[/url][/b]
band of hand-made Teddy Brook Tricks strap, the dominant means[b][url=http://pradas.hidear.org/#44491]プラダ 財布[/url][/b]
simulation fur and leather recycling. Tricks wearing magnificent, trifle psychotic, amphibole and Caizhu of medal is reminiscent [b][url=http://prada.hidear.org/#44351]プラダ 財布[/url][/b]
of the unimportant era. Their neck,[b][url=http://prada.hidear.org/#44431]プラダ 長財布[/url][/b]
disposal and foot of each intersection can be strenuous, and shining of fun. Media published [b][url=http://pradas.hidear.org/#44371]プラダ 長財布[/url][/b]
lone figure of $ 195.

dongdong mengatakan...

20161.14wengdongdong
nike air max
louis vuitton handbags
ugg sale
coach outlet
louis vuitton borse
jordan 4 toro
oakley vault
nike air max uk
oakley sunglasses wholesale
ray ban outlet
burberry outlet
louboutin outlet
abercrombie & fitch
hollister clothing store
polo ralph lauren outlet
ugg sale
canada goose jackets
coach outlet online
michael kors bags
kate spade outlet
fitflops shoes
toms outlet
michael kors outlet
coach outlet
mont blanc pens
oakley sunglasses
ray ban sunglasses
toms outlet
timberland boots
burberry outlet
louboutin
true religion jeans
ugg outlet
canada goose sale
michael kors outlet
coach factory outlet
fitflops outlet
marc jacobs handbags
michael kors handbags
toms outlet store

chenlina mengatakan...

chenlina20160302
the north face
coach factory outlet
hollister shirts
louis vuitton outlet
louis vuitton
ed hardy clothing
louis vuitton outlet online
coach outlet store online
louis vuitton handbags
oakley sunglasses
michael kors outlet
michael kors handbags
tods shoes
nba jerseys
coach factory outlet online
tory burch outlet
hollister outlet
air jordans
coach outlet store online
hollister outlet
louboutin pas cher
micheael kors outlet
oakley outlet
ray ban wayfarer
coach outlet store online
cheap air max
ray ban sunglasses outlet
vans shoes sale
michael kors uk
coach factory outlet
ray ban sunglasses
michael kors outlet
oakley sunglasses
ralph lauren outlet
louis vuitton handbags
cheap uggs
marc jacobs handbags
hollister clothing
celine handbags
michael kors outlet
as

Fangyaya mengatakan...

designer handbags
air jordan shoes
coach outlet
kate spade handbags
fitflops sale
toms outlet
cheap oakley sunglasses
michael kors handbags
mont blanc pens outlet
michael kors outlet online
coach outlet
ugg boots on sale
hollister jeans
ray ban sonnenbrille
oakley sunglasses wholesale
kobe shoes 11
ghd hair straighteners
ugg outlet
concord 11
ralph lauren outlet
celine outlet
michael kors outlet clearance
supra footwear
golden state warriors jerseys
christian louboutin shoes
giuseppe zanotti sneakers
rolex submariner price
retro 11
christian louboutin sale
washington wizards jerseys
michael kors handbags
michael kors bags
nike store
michael kors outlet
nike tn pas cher
adidas yeezy
toms wedges
louis vuitton outlet
michael kors handbags
uggs for cheap
20168.13chenjinyan

caiyan mengatakan...

christian louboutin outlet
louboutin uk
hollister clothing
canada goose
borse gucci
oakley sunglasses
longchamp uk
louboutin shoes
oakley sunglasses
rolex watches
20161018caiyan