Kamis, 02 Juni 2011

Politik Maskulin dan Ibu Pertiwi


Oleh


Agung Wardana



Mati Devata, Dharam Devata

(Tanah adalah dewa-dewi kami, tanah adalah agama kami)


Kalimat diatas adalah slogan yang diteriakkan oleh para perempuan India dari gerakan “Selamatkan Gunung Gandharman”, ketika mereka diseret oleh polisi dalam aksinya. Gerakan yang dimotori kaum perempuan tersebut adalah bentuk perjuangan dalam menolak perusakan gunung dan hutan oleh perusahaan tambang bauiksit. Seorang demonstran berusia 70 tahun, Dhanmati berteriak, “kami akan mengorbankan hidup kami, tapi bukan Gandharman. Kami ingin menyelamatkan gunung ini yang telah memberi kami apa yang kami butuhkan.”


Teriakan ini menggambarkan pendirian para perempuan tersebut yang berada di garis depan dalam membela hak dan kelestarian alam mereka. Selain itu masih ada kisah Vandana Shiva bersama para perempuan sekitar hutan menolak membukaan hutan dengan cara memeluk tiap batang pohon yang akan ditebang oleh perusahaan. Pertanyaannya kemudian, mengapa perempuan berada di garis depan gerakan lingkungan?


Perempuan dan Ekologi

Diatas perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia-manusia maskulin dengan kesombongannya mereduksi ibu pertiwi menjadi komoditas yang diperjual-belikan, digunduli hutannya, dikeruk kekayaan perutnya tanpa mendengar isak tangisnya. Gaya berpikir Cartesian ini sepertinya juga menjangkiti kepala para politisi dan intelektual yang sebenarnya menjadi harapan orang kebanyakan untuk menjadi garda terdepan penyelamatan pertiwi.


Secara sosio-religius, dari berbagai mitologi kuno, menempatkan bumi dan sumber daya alamnya sebagai spirit perempuan, yakni feminisme. Hal ini menunjukkan bahwa, masyarakat tradisional menempatkan perempuan identik dengan bumi yang harus dihormati dan karenanyalah kehidupan di dunia dapat berlangsung. Di Bali, misalnya, kita mengenal Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, di India, Sungai Gangga, Yamuna, Narmada adalah sungai sakral yang dipuja sebagai para dewi. Di Prancis, dikenal sungai Marne yang berasal dari kata Matrona, Dewi Ibu. Begitu juga di Yunani kita mengenal ada Dewi Gaia.


Bumi (pertiwi) ini adalah Ibu dari semua kehidupan, karena dia telah menyediakan kebutuhan hidup dengan penuh cinta tanpa mengharap balasan melainkan hanya butuh kearifan kita dalam menjaga kelestariannya. Kedekatan perempuan tradisional dengan alamnya tidak saja dalam spiritualitas saja tapi teraktualisasi dalam pekerjaannya sehari-hari yang berhubungan langsung dengan lingkungan hidupnya. Mengambil air untuk minum, mengumpulkan kayu bakar dari hutan atau kebun, mencuci perabot rumah tangga, mebanten adalah sebagaian kecil saja kontak langsung dengan apa yang telah diberikan ibu pertiwi yang kemudian dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.


Bagi perempuan, kerusakan lingkungan hidup berarti semakin sulitnya melanjutkan hidup keluarga. Karena, ia harus berjalan jauh untuk mengambil air bersih, tidak bisa memasak karena hilangnya kesuburan tanah sebagai penghasil makanan pokok keluarga. Kerusakan lingkungan juga akan menyebabkan kemiskinan yang semakin parah akibat hilangnya akses terhadap sumber daya alam dalam memenuhi kebutuhan hidup, lagi-lagi perempuan sebagai pihak yang menjadi korban terberat. Karena
perempuan juga dinilai lebih memiliki sensifitas dalam melihat kerusakan lingkungan, harapannya dengan nilai-nilai feminisme nya mereka tergerak unutk menjadi pembela lingkungan sekitarnya.


Tabanan dan Politik Maskulin

Harapan ini pula yang disampaikan banyak orang ketika mendukung seorang ibu untuk maju menjadi bupati di Tabanan. Jika melihat kondisi politik Tabanan yang sangat maskulin dan kondisi lingkungan semakin memprihatinkan, memang masuk akal Tabanan membutuhkan tangan seorang ibu memperbaiki keadaan. Namun, tentu saja harapan ini sangatlah naïf mengingat sang ‘ibu penolong’ yang dimaksud tidak lebih merupakan perpanjangan rejim sebelumnya.


Dan saat ini terlihat jelas watak maskulin dari Ibu Bupati itu dalam gaya kepemimpinannya Ketika banyak daerah mencoba merubah haluan menuju pembangunan yang berkelanjutan secara sosial, ekonomi dan ekologi, nampaknya Tabanan masih berkutat dengan gaya pembangunan primitif-nya, obrol murah dan habis ada yang ada. Ia sepertinya tidak jauh berbeda dengan kolega laki-lakinya dalam melihat alam tidak lebih dari sekedar seonggok bahan metah siap jual. Malah, mungkin ia jauh lebih maskulin dari laki-laki mengingat secara terbuka berencana menambang pasir pantai untuk investor dari China (BP, 24/05/11).


Sekali lagi, pesisir Bali saat ini tengah berada dalam kondisi kritis. Penambangan pasir ini justru akan menambah parah kondisi pesisir Bali dan belum lagi menghitung dampak perubahan iklim nantinya. Tidak mustahil daratan Bali akan bertambah sempit. Mungkin Ibu Bupati dan para politisi lainnya punya cukup uang atau koneksi untuk bisa memiliki villa dipuncak Bedugul sehingga tidak perlu risau dengan abrasi yang kian mengkhawatirkan. Tetapi para petani dan nelayan miskin yang terkena dampak tidak tahu harus pindah kemana dan makan apa nantinya.


Alasan lapangan kerja sudah cukup sering didengar dan mungkin saat ini telah basi dan memuakkan. Karena alasan lapangan kerja, bukan berarti kita harus bunuh kehidupan pertiwi dan diri sendiri dengan mengikis daratan sedikit demi uang yang tidak seberapa. Sebenarnya, yang dibutuhkan oleh Ibu Bupati ini adalah sedikit kecerdasan, kreatifitas dan sensitifitas terhadap alam guna mencari model pembangunan yang lebih ramah lingkungan dan berkeadilan.


Jika masih menggunakan model pembangunan primitif ini, maka sudah seharusnya lahir kaum-kaum feminist yang berjuang digaris depan dalam menyelamatkan ibu yang sedang diperkosa oleh maskulinitas para politisi. Para pemerkosa alam ini hanya bisa berhitung untuk melipatkan gandakan pundi ekonomi karena terang saja politik maskulin membutuhkan biaya yang sangat mahal. Mulai dari biaya memilihara para jago untuk menakut-nakuti rakyat, biaya komunikasi politik dalam membangun citra, hingga persiapan biaya untuk meredam orang yang berani kritis terhadap kebijakannya.


“Om mata bhumih putro aham prthivyah”

(Ya Tuhan, semoga kami mencintai tanah air ini sebagai Ibu hamba, dan hamba, putra-putra-Nya siap sedia membela-Nya)


Aktivis Lingkungan, tinggal di Nottingham, Inggris



*tulisan ini telah dipublikasi pada www.beritabali.com hasil modifikasi dari tulisan sebelumnya berjudul 'Perempuan dan Ekologi"